Kiat Sukses: Pniel

27/07/2011 00:27

Membaca Kisah Yakub di Kitab Kejadian Pasal 32 memberikan begitu banyak pelajaran bagi kita. Inilah seseorang yang sejak lahir menggunakan akal dan kelicikan untuk memperoleh apa yang diinginkannya. . . . dan selalu berhasil. Demi hak kesulungan, Yakub memperdaya kakak kandungnya. Dia memperdaya bapaknya untuk berkat yang semestinya menjadi milik kakaknya. Dia memperdaya mertuanya untuk hasil ternak yang menjadi upahnya. Untuk yang terakhir ini dia menggunakan alasan bahwa mertuanya telah memperdaya dia berkali-kali sehingga Yakub merasa pantas untuk membalasnya.

Sebelum Kej. 32:24-28 Yakub belum mengandalkan Tuhan untuk menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Dia lebih mengandalkan kekuatan dan kecerdikannya. Memang berkat kecerdikan dan akal bulusnya Yakub bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tapi hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan.

Dia takut ketika Esau yang merasa tertipu berjanji akan mengadakan pembalasan. Yakub lari ke Haran. Di Haran dia berhasil memperoleh banyak ternak dengan cara mengakali mertuanya. Namun demikian dia senantiasa ketakutan karena sewaktu-waktu Laban akan merebut kembali semua itu. Dia kembali lari ke tanah Kanaan. Di Kanaan pun dia harus menghadapi kembali kakaknya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Kali ini dia sangat ketakutan dan tidak ada pilihan lain selain harus berhadapan dengan Tuhan. Dia bergumul semalam suntuk sebelum akhirnya bertemu dengan Tuhan dan memperoleh keyakinan akan kasih dan penyertaan-Nya.

Sesuatu yang luar biasa terjadi. Saat itu Tuhan membuat Yakub melihat bahwa dia bukan lagi sebagai seorang penipu dan perampas (Kej. 27:36) tapi mulai melihat dirinya sebagai seorang pewaris Allah, seorang pangeran putera Allah. Bahkan Tuhan merubah namanya menjadi Israel agar dia selalu ingat bahwa image yang dibawanya sejak lahir saat itu juga harus ditinggalkan dan diganti dengan image diri yang baru; yaitu sebagai pangeran milik Allah, seseorang yang sangat dikasihi dan memiliki privilege dimata Tuhan.

Kej. 32:24,28-30 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"

Setiap anak Tuhan kadang perlu menemui jalan buntu terlebih dahulu sebelum ia menyadari bahwa segala akal dan kekuatannya tidak selalu mampu diandalkan dalam menghadapi hidup ini. Latar belakang keluarga, pendidikan tinggi, kemampuan dan pengalaman kita tidaklah selalu manjur untuk mengatasi persoalan yang kita hadapi. Kita perlu lebih dari itu.

Tuhan ingin agar manusia menyadari bahwa kita berharga dimata-Nya. Allah menganggap kita sebagai anak-anak-Nya. (Yoh. 1:12). Apapun profesi kita sekarang ini - karyawan, pengusaha, atau apapun juga – hendaknya jangan hanya mengandalkan kemampuan kita.

Andalkan Tuhan dalam segala hal yang kita hadapi. Libatkan Tuhan Yesus dalam apapun yang kita lalui (Amsal 3:5-6) dan Dia akan meluruskan jalan kita. Kebaikan dan keberhasilan akan menyertai anda dan saya.

Hari ini biarlah kita berubah menjadi Israel. Tidak lagi sebagai Yakub. Kita memulai hari ini dengan hidup dan bekerja sebagai pangeran-pangeran kekasih Tuhan Yesus.

All blessings.
Binsar

Sumber: http://binsar.blogspot.com/2007_10_29_archive.html